
Arga bekerja sebagai buruh bongkar muat di pasar induk. Kadang pulang bawa upah, kadang pulang bawa punggung pegal tanpa uang sama sekali. Dini tahu Arga sudah mencoba segalanya, tapi tetap saja, dapur mereka sering kalah dengan angka di buku catatan.
Pagi datang dengan suara bocor di ember penampung air hujan. Dini sibuk di dapur menanak nasi, menumis sisa tempe semalam. Rafa merengek, lapar. Arga duduk di lantai, menatap punggung Dini.
“Maaf ya, Din,” gumamnya.
Dini hanya menoleh, menahan senyum. “Nggak usah minta maaf terus. Kamu udah kerja keras.”
Arga menunduk. Matanya berkaca, tapi disembunyikan dengan menunduk mencium ubun-ubun Rafa.
Kadang, di malam-malam sunyi, Arga berbisik, “Din, kalau kamu mau pergi… kalau kamu mau cari yang lebih mampu… nggak apa-apa.”
Dan Dini selalu menjawab dengan menatap matanya, “Aku nggak lapar uangmu, Ga. Aku cuma butuh kamu tetap pulang.”
Penulis: Aswan, dkk.
Editor: Nias
Layout & Cover: Purnita