
Penulis : Moh. Arif Raziqy, S.T.,S.Hum.,M.Hum.
Desain Sampul dan Layout : Tim PSS
ISBN: sedang proses
Jumlah ahalaman : 124
Ukuran : a5
Deskripsi buku:
Kehadiran Muhammadiyah di Pulau Kangean mengalami penolakan, karena mereka hadir di sebuah wilayah (pulau) yang sudah berpaham Islam tradisional (NU). Disamping itu Kangean yang merupakan bagian dari Madura juga sangat fanatik dengan ajaran para pendahulunya. Hal ini yang menjadi tantangan Muhammadiyah dalam berdakwah di Pulau ini.
Sebelum berbicara bagaimana Muhammadiyah di Kangean, penulis akan menghadirkan gambaran pola Muhammadiyah di Perkotaan studi kasus di Yogyakarta. Setidaknya ada tiga hal yang mendukung perkembangan Muhammadiyah. Pertama, di berbagai daerah sebelum Muhammadiyah berdiri diawali terlebih dahulu dengan didirikan kelompok pengajian yang sejalan dengan Muhammadiyah. Fenomena yang sama juga berlangsung di dalam kota Yogyakarta sendiri, hal mana Kiyai Dahlan menganjurkan kepada umat Islam yang sejalan dengan Muhammadiyah untuk membentuk kelompok pengajian. Kedua, peran Penghulu dalam pertumbuhan awal Muhammadiyah sangat besar –kalau tidak boleh dikatakan menentukan. Hal ini karena, mengutip Muhammad Hisyam, sebagian besar Pangulu di Jawa mendukung gerakan pembaruan Muhammadiyah. Ketiga, peran Kampung Kauman yang terdapat di hampir semua kota kabupaten di Pulau Jawa dalam menopang pertumbuhan dan perkembangan Muhammadiyah juga cukup besar. Modelnya adalah Kampung Kauman Yogyakarta. Kampung Kauman Yogyakarta sebagai tempat tinggal para abdi dalem Keraton Yogyakarta untuk urusan keagamaan (Pangulu dan Ketib), dan sebagai pusat persemaian benih-benih gerakan Muhammadiyah, ternyata secara tradisional merupakan pusat industri batik. Kyai Dahlan sendiri dikenal sebagai pedagang batik, yang tidak asing dan pernah mengunjungi beberapa kota di Pulau Jawa dan Sumatera. Tampaknya, jaringan Pangulon dan perdagangan batik dari Kauman Yogyakarta itu kemudian berkembang menjadi model yang khas bagi sebagian besar kampung suatu komunitas keagamaaan (yang juga dinamakan kauman) di banyak daerah di Jawa. Jaringan tersebut sangat berjasa dalam perkembangan Muhammadiyah, terutama di Pulau Jawa.
Sementara itu Muhammadiyah di Kota Mojokerto kehadiran Muhammadiyah mirip dengan pola Yogyakarta dimulai dari pengajian-pengajian yang bertempat di Mushalla dan kegiatan pengajian ini diselenggarakan oleh pemilik mushalla yang merasa cocok dengan paham Muhammadiyah. Pada perkembangannya berlanjut dengan mendirikan Masjid dan sekolah. Sebagai amal usahanya Muhammadiyah di Mojokerto mendirikan Panti Asuhan Yatim (PAY).
Kehadiran Muhammadiyah di Lamongan berbeda dengan Mojokerto walau berada pada satu wilayah, yaitu Jawa Timur. Di Lamongan tokoh perintis Muhammadiyah adalah mereka yang berlatar belakang Nahdhatul Ulama (NU), sehingga masalah konflik bisa dengan mudah diatasi. Konflik dipicu oleh politik identitas atau lebih tepatnya konflik itu muncul pada masa-masa politis yang menggunakan identitas NU dan Muhammadiyah sehingga berujung dengan pendirian masjid yang berbeda dan juga mushalla yang berbeda.
Muhammadiyah di Lamongan disebarkan di kalangan pedagang, guru, pegawai pemerintah dan komunitas perkotaan. Sedangkan yang unik pada wilayah Lamongan ini Muhammadiyah lebih dulu berkembang di desa dan merambat ke kota, sehingga berkembang dengan baik khususnya di wilayah pesisir.
Muhammadiyah di Kangean mempunyai ciri yang berbeda. Hal itu bisa dilihat, pada awalnya Muhammadiyah di Kangean bersifar personal (perorangan), ketika sering mendapatkan serangan verbal berupa singgungan maka mengkristal membentuk kelompok kecil yang militan dan memisahkan diri dari masyarakat Kangean secara khusus. Pada wilayah pedesaan dan kepulauan Muhammadiyah lebih berfokus pada perbaikan pendidikan dan sarana ibadah saja.