Banyak anggapan yang mengatakan bahwa menulis sebuah buku itu sulit. Baik itu dari kalangan akademisi, guru-guru di sekolah, hingga berbagai tingkatan masyarakat lainnya juga berpendapat begitu. Termasuk saya pun di awal-awal juga punya anggapan demikian. Namun, setelah saya mencoba masuk ke ranah tersebut, anggapan ‘sulit’ di atas ternyata perlahan mengalami pergeseran. Setelah berkecimpung lebih dalam di dunia penulisan,
akhirnya saya pun menyimpulkan bahwa yang namanya menulis buku itu ternyata bisa dikatakan mudah tapi bisa pula dikatakan sulit. Kenapa bisa saya katakan demikian? Baik, kita akan coba jelaskan dua kata (mudah dan sulit) yang saya Jekatkan dalam kegiatan tulis menulis di atas. pikiran dalam bentuk tulisan? Laptop atau komputer ada di mana-mana. Jika tidak punya, kita bisa pinjam punya keluarga, punya teman, atau jika tidak ada yang mau pinjamin, kita tinggal pergi ke perpustakaan daerah. Di sana sudah tersedia media komputer untuk memudahkan masyarakat bisa mengaksesnya. Kalau masih beralasan tidak bisa menggunakannya, kita masih bisa menulis lewat ponsel yang selalu setia berada di tangan dan saku baju atau celana. Zaman sekarang hampir semua kalangan masyarakat punya ponsel pintar. Dari anak-anak balita sampai yang sudah lanjut usia sekarang alat ini berada dalam genggaman mereka. Namun jika saja masih beralasan gaptek, maka kita bisa menggunakan pensil, pulpen, spidol, untuk menuliskan gagasan kita di lembaran kertas kosong. Harga alat tulis ini murah, dan mudah ditemukan. Maka sebenarnya kalau boleh jujur, tidak ada alasan untuk tidak bisa menulis di era teknologi sekarang ini. Jika dibandingkan dengan cara bagaimana orang zaman dahulu menulis, maka sungguh kita hari ini amatlah dimanjakan sekali. Orang di masa lalu jika ingin
Penulis: Ridha Ul Maula
Editor: Ebu Hajar
Layout & Cover: Padre Oemar
Jumlah halaman: 157
Ukuran buku : A5 (21cm)