Sajak-sajak puisi ini bercerita perihal kebahagian dan kesedihan yang dialami. Seperti Yin dan Yang, dibalik kebahagian pasti terdapat kesedihan yang terjadi.
Rembulan Pagi menjadi judul salah satu puisi di buku pertama yang berjudul “Tentang Ruang dan Waktu. Kini menjadi judul buku kedua yang menjadi alasan kebahagian dan kesedihan yang kualami dan ingin kupersembahkan pada rembulan. Harapku sinar rembulannya tetap terang benderang, agar kesedihannya tak berlarut terlalu lama. Kisahnya kuharap masih dapat berlanjut bila kesempatan itu datang sekali lagi.
Hari pertama, aku mulai terbangun dari mimpi. Hari ketiga, semuanya seolah terpampang nyata. Hari ketujuh, ini benar-benar macam ilusi. Hari kesepuluh, aku mulai merasa ragu ini nyata. Hari ke dua puluh satu, hangatnya mulai terasa nyaman. Hari ke dua puluh tujuh, kini aku mulai luluh terhadapmu. Hari ketiga puluh, serat-seratnya mulai tersambung. Hari ke lima puluh, semuanya mulai utuh, hingga aku melihatmu begitu jelas. Hari ke enam puluh, genggamannya mulai terasa. Hari ke tujuh puluh, senyumanmu begitu manis sekali. Hari ke delapan puluh, aku bisa mendekapmu erat. Hari ke sembilan puluh, aku bersyukur memilikimu, bersamamu, dan melihatmu kini. Hari ke sembilan puluh sembilan, syukur ku ucapkan atas kehadiranmu. Hari ke seratus, terima kasih telah menjadi milikku.
Penulis: Rizki Aoyama
Editor: Try Riduwan Santoso
Layout & Cover: Rizki Aoyama
Ukuran buku: 21cm
Jumlah halaman: 104