school and education

Talk to us

0812-1603-3775

BRIDGING AND PRESERVING KNOWLEDGE. Penerbit Putra Surya Santosa (PSS). Tentang kami

Segera Terbit

Dari Hava : Surat Kedua Belas

Dari Hava : Surat Kedua Belas

Aroma teh hijau semakin menguar begitu Hava menyesap matcha latte di tangannya. Sementara di hadapan Shenina, segelas sundae cokelat telah
lama meleleh tak tersentuh. Detik demi detik berlalu, gadis itu masih

tertunduk menatap sepasang sepatu ketika Hava akhirnya mencondongkan
tubuh untuk menatapnya.
Sadar tengah dipandangi sedemikian rupa, Shenina sengaja memalingkan
wajahnya ke segala arah.
“Lo nangis?” Tak ada gunanya mengelak, Hava terlanjur tahu.
Shenina mendengus sebelum menjawab dengan ketus. “Cuma bentar,
kok!” selorohnya cepat, mengira Hava akan menertawakan atau mengejek
kelakuannya sekarang. Namun, dugaannya jelas salah sebab lelaki itu tak
tertawa―tak pernah, bahkan ketika ia hanya menangisi hal-hal bodoh,
Hava tidak pernah sekali pun tertawa. “Gue udah coba tahan, tapi air
matanya keluar juga.”
“Yang nyuruh lo nahan tangis siapa?” Hava menyandarkan punggungnya
di kursi, kemudian melihat jauh ke luar jendela. Jendela di kafe ini
besar, sehingga pengunjung dan orang-orang di jalanan sana bisa melihat
satu sama lain.
Jika sore hari seperti sekarang, sinar matahari akan menyoroti sisi kafe
sehingga bias-bias cahaya jatuh di atas meja-meja kayu yang mengkilap.
Shenina menyukai suasananya yang hangat, beraneka ragam minuman
manis disajikan, aroma kue-kue lembut dan saus spageti selalu tercium
dari dapurnya.


Chat

0812-1603-3775