Pada mulanya puisi. Ia mengalami tatanan hidup yang samar saat masa pendudukan Jepang. Di puisi, ia kadang-kadang ikut menyuarakan yang dikehendaki banyak orang meskipun ada yang muslihat. Propaganda telah mencampuri kemauan-kemauan bersastra yang mendapat pengawasan mata-militer, bukannya mata estetika.
Yang menulis puisi itu bernama Usmar Ismail. Ia tergoda dengan rayuan-rayuan Jepang yang sedang ingin mencipta sandiwara akbar di Indonesia. Usmar Ismail tak melupa menyajikan renungan-renungan yang religius. Yang tak ketinggalan, renungan-renungan eksistensialis.
Pada akhirnya, ia tak selamanya menulis puisi. Yang teringat adalah keberanian menyuguhkan cerita-cerita di panggung. Jadilah ia dalam pentas-pentas sandiwara. Usmar Ismail menempuhi jalan yang tidak terlalu jauh dari sastra. Tangan-tangan terus menulis menghasilkan naskah-naskah sandiwara yang ikut memberikan pengaruh dalam perkembangan teater di Indonesia. Di puncak berkesian, Usmair Ismail adalah pembuat film.