Novel ini lahir dari sebuah kegelisahan—dari suara-suara yang dibungkam di tanah mereka sendiri.
Di negeri ini, begitu banyak kisah perlawanan yang tak pernah sampai ke telinga kita; tentang tubuh-tubuh yang dipaksa menyerah saat mempertahankan sejengkal tanah warisan. Untuk mereka yang masih berdiri di garis depan, semoga kisah ini bisa menjadi kawan seperjuangan. Dan untuk kita yang hanya mampu menyaksikan dari kejauhan, semoga novel ini menjadi pengingat bahwa diam adalah sebentuk pengkhianatan.
Kisah ini akan membawamu pada perjalanan Rintik Alingga, seorang pemuda yang dunianya terbuat dari puisi. Namun, takdir memaksanya memilih: terus merangkai kata dalam sunyi, atau menggenggam senjata saat tanah kelahirannya, Kutalingga, terancam direnggut oleh keserakahan.
Ini adalah cerita tentang cinta pertama yang mekar di tengah deru mesin-mesin raksasa, dan tentang persahabatan yang gugur bahkan sebelum sempat mengucap selamat tinggal.
Pada akhirnya, Diantara Syair adalah sebuah pengingat bahwa rumah bukanlah sekadar bangunan, melainkan kumpulan kenangan yang layak dipertahankan hingga tetes darah terakhir.
Ia adalah bisikan lirih bahwa terkadang, perlawanan paling sunyi justru memiliki gaung yang paling nyaring.
Penulis: Ridho Afandi Sinulingga