Menjelajah Zaman, Merawat Iman merupakan sebuah bunga rampai yang menghadirkan beragam kajian tentang pemikiran, ajaran, keteladanan, dan kiprah Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah (TQN) Pondok Pesantren Suryalaya dalam merespons perubahan zaman.
Berangkat dari warisan spiritual Abah Sepuh dan Abah Anom, buku ini tidak memandang tasawuf semata-mata sebagai jalan penghayatan spiritual yang bersifat personal. Tasawuf ditempatkan sebagai sumber nilai yang dapat diwujudkan dalam kehidupan sosial, pendidikan, dakwah, kebudayaan, ekonomi, lingkungan, hingga pembentukan karakter manusia.
Sejumlah tulisan secara khusus mengkaji sosok Syekh Ahmad Shohibulwafa Tajul ‘Arifin atau Abah Anom sebagai ulama, mursyid, pendidik, pembimbing spiritual, sekaligus tokoh yang memberikan kontribusi luas bagi masyarakat. Kajian mengenai hagiografi dan manaqib Abah Anom menunjukkan bagaimana keteladanan, akhlak, kedalaman spiritual, serta pengabdiannya dapat menjadi sumber pembelajaran bagi para salik dan masyarakat.
Buku ini kemudian memperluas pembahasannya pada hubungan TQN dengan budaya Sunda, inklusivitas, moderasi beragama, dan dakwah lintas wilayah. Pondok Pesantren Suryalaya ditampilkan bukan hanya sebagai pusat pendidikan dan pengembangan tarekat, tetapi juga sebagai ruang pelestarian budaya Sunda serta tempat tumbuhnya nilai-nilai seperti kasih sayang, pembelajaran bersama, dan pembimbingan antarsesama.
Pada ranah sosial, pemikiran dan praktik TQN Suryalaya dibaca dalam kaitannya dengan persoalan kontemporer. Konsep dzikir, riyadhah, akhlak, dan Inabah dipertemukan dengan kebutuhan pembinaan manusia di tengah berbagai persoalan modern. Warisan Abah Anom bahkan dikaji dalam kaitannya dengan kepedulian ekologis, pemberdayaan masyarakat, dan pembentukan tanggung jawab manusia terhadap lingkungan.
Dimensi pendidikan juga memperoleh perhatian penting. Buku ini membahas pendidikan karakter, spiritual parenting, pendidikan anak usia dini, profesionalisme guru, pendidikan tasawuf, hingga kemungkinan integrasi spiritualitas TQN dengan teknologi dan kecerdasan buatan. Dengan demikian, warisan spiritual tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang terpisah dari perkembangan teknologi, melainkan sebagai sumber nilai untuk mengarahkan kemajuan agar tetap berpihak pada kemanusiaan.
Pada bagian lainnya, buku menghubungkan tasawuf dengan fiqh, kalam, hukum, manajemen, dunia kerja, ekonomi syariah, dan etika bisnis. Keseluruhan kajian tersebut memperlihatkan satu gagasan penting: bahwa iman tidak cukup berhenti pada pengetahuan dan ritual, tetapi harus menjelma menjadi akhlak, tindakan, tanggung jawab, dan kemaslahatan.
Menjelajah Zaman, Merawat Iman pada akhirnya merupakan ajakan untuk melihat kembali relevansi spiritualitas Islam di tengah perubahan sosial dan teknologi yang begitu cepat. Di satu sisi, manusia diajak untuk terus menjelajah zaman; di sisi lain, ia diingatkan agar tidak kehilangan iman, akhlak, identitas budaya, dan kesadaran kepada Tuhan.
Buku ini layak dibaca oleh akademisi, mahasiswa, penggiat tasawuf dan tarekat, pendidik, dai, pemerhati budaya, serta siapa pun yang ingin memahami bagaimana nilai-nilai spiritual dapat tetap hidup, relevan, dan transformatif dalam menghadapi tantangan zaman.
Judul: Menjelajah Zaman, Merawat Iman
Editor: Rojaya, Nurhamzah CS., Dani Somantri, Faisal
Penulis: Norashfah Hanim Yaakop Yahaya Al-Haj, Asep Salahudin, Muhamad Kodir, Wawan, Jamaludin, Nurhamzah CS., Asep Hamdan Munawar, Try Riduwan Santoso, Niknik Dewi Pramanik, Bela Elqaweliya, Suhrowardi, Syarief Hasani, Nana Suryana, Aspiyah Kasdini, Sunarno, Oyib Sulaeman, Saeful Anwar, Rojaya, Oo Hanapiah, Dudi Jamaludin, Atus Ludin M., Asep Ely Gunawan, Asriadi, Rauf, Iis Amanah Amida, Nita Anjung Munggaran, Susan Nurhayati, Ambar Maolana, Junjun Kurnia, Sufi Anah Hamidayati, Fauzia Assilmy, dan Rizki Kunstanti.
Layout & Cover: Tim PSS
Penerbit: CV. Putra Surya Santosa
Cetakan: Pertama, Agustus 2026
ISBN: Belum dicantumkan pada naskah
Tebal: 458 halaman