Korupsi bukan sekadar persoalan uang, jabatan, dan kekuasaan. Ia juga tumbuh dari keserakahan, penyalahgunaan kepercayaan, pembenaran atas ketidakjujuran, serta kebiasaan bermain akal-akalan yang perlahan dianggap lumrah. Ketika integritas dikalahkan oleh kepentingan pribadi, bukan hanya harta yang dirampas, melainkan juga hak masyarakat, masa depan generasi, dan harapan akan kehidupan yang adil.
Antologi Puisi Tidak Korupsi merupakan kumpulan puisi dari beragam penulis yang menyuarakan kegelisahan, kritik, dan perlawanan terhadap praktik korupsi. Melalui metafora, satire, ironi, sindiran, dan perenungan, para penyair mengajak pembaca melihat korupsi dari berbagai sudut pandang, mulai dari penyalahgunaan kekuasaan dan manipulasi anggaran hingga perilaku tidak jujur yang berawal dari kehidupan sehari-hari.
Puisi-puisi dalam buku ini tidak hanya menyoroti perilaku para pemegang jabatan, tetapi juga mengajak setiap orang untuk bercermin dan memeriksa integritas dirinya sendiri. Seruan untuk tidak korupsi menjadi pengingat bahwa perubahan tidak cukup dimulai dengan mengecam kesalahan orang lain, tetapi harus diwujudkan melalui keberanian bersikap jujur, menjaga amanah, dan menolak keuntungan yang diperoleh dengan mengorbankan kebenaran.
Dengan suara yang beragam dan gaya pengungkapan yang khas, antologi ini menghadirkan sastra sebagai ruang refleksi sosial sekaligus sarana menumbuhkan kesadaran antikorupsi. Buku ini mengingatkan bahwa pendidikan integritas tidak berhenti pada pengetahuan tentang benar dan salah, tetapi perlu diwujudkan dalam kebiasaan, keteladanan, dan keputusan yang bertanggung jawab.
Antologi Puisi Tidak Korupsi diharapkan menjadi kontribusi bagi perkembangan sastra Indonesia dan penguatan budaya antikorupsi di tengah masyarakat. Sebuah ajakan untuk berhenti bermain akal-akalan, merawat kejujuran, menjaga kepercayaan, dan membangun kehidupan yang lebih bermartabat.
Judul Buku: Antologi Puisi Tidak Korupsi
Penulis: Abdurrahman Al-Hakim, Abdurrahman El Husaini, Abrar Effendi, Adnan Arinal Haq, Afwah Ja’far, Agustav Triono, Akhmad Alfi, Akhmad Sekhu, Ali Syamsudin Arsi, Aliatul Makiah, Amat Selamat, Annisa Resmana, Anugrah Gio Pratama, Ardhi Ridwansyah, Ariffin Noor Hasby, As Syifa Agustina, Ayu Siti Yahya, Bambang Karno, Dalle Dalminto, Didi Nooryadi, SH., MH (Aldino Makahar), Dzakwan Ali, Erwan Juhara, Eryantho Kamis, Firman Wally, Fitri SeiG, Gusti Indra Setyawan, H. Ahmad Fitriadi Faz, Habas Rangga, Hadani Had, Harsiah, S.Pd, Indri Kartika Putri, Jaya Ginmayu, JH. Tanujaya, Jo Prasetyo, Juhriah, Kartika, Lara Malini, M Rahim Arza, M. Nahdiansyah Abdi, Mahdalina, Mahfuzh Amin, MALA, Martha Krisna, Masruswian, Merawati May, Mihrab An Nabawi, Mochammad Syu'aib, Muab, Muh. Ahyatul Fajri, Muhamad Yusuf, Muhammad Daffa, Muhammad Jayadi, Muhammad Radi, Muhammad Rafly Rizkan, Muhammad Rasyed, Muhammad Rasyid Zaki, Mulyadi J. Amalik, Mumus Barambai, Nadia Hairol Nisa, Najibul Mahbub, Naqiy, Nazwatunisa, Nina Sri Savarina Ulfah, Nor Azizah Hayati, Norjanah, Norma Santi, Nur Lailunnajah, Nuriman N. Bayan, Nurmaliansari, Prasetya B. Utama, RD Kedum, Relis Nashir Muttaqin, Riki Utomi, Rosyidi Aryadi, Roymon Lemosol, Rusi Hartati, S.H. Fashawi, S.M. Arsatera, Sami’an Adib, Soekirman, Syahrul Chelsky, Syarifah Laila Hayati, Tika Hartika, Umi Hanin, Warsono Abi Azzam, Wildanne, Yunita Fatmawati, Zabidi Yakub.
Editor: Ali Syamsudin Arsi, JH. Tanujaya, dan Wildanne
Penata Letak (Layout): JH. Tanujaya